Jadi ceritanya gini, kebetulan pas belajar Bahasa Indonesia gurunya nugasin untuk bikin puisi dengan tema yang ditentukan, nah lajur aku dapet temanya "Keindahan Alam" beruntung kumpulin tugasnya minggu depat (syukur).. Dengan tekad yang kuat, aku niat dalam hati untuk bikin tu puisi ntar malemnya. Emang sihh aku bikin entar malemnyaa, tapi entar malem yang besoknya puisi mau dikumpulin, Artinyaa aku udah nunda tugas itu selama seminggu.. Kebiasaan sih emang kadang-kadang sering nunda-nunda tugas (DILARANG KERAS UNTUK DITIRU!!!!)
Berbekal kertas hvs, pensil dan penghapus, akhirnya aku coba berdamai dengan ni tugas.. Keindahan alam? aApa aku harus nyelipin kalimat-kalimat romantis? atau Syukur atas Keindahan alam yang diberikan Allah? Atau tentang kerusakan alam? Aku mulai bingun dengan isi puisi dan judul. Keinget pesan ibuk guru "kalau untuk keindahan alam, kamu harus bikin gambaran seperti alam yang dulu indah, sekarang rusak,tapi kata-katanya tidak boleh frontal, pakai kalimat bermajas"
Mampus!!! Aku nggak bisa bermain dengan kata-kata apalagi bermajas.. Tidak frontal?? Beuhh susah buat ngerubah kebiasaan frontal..
Akhirnya tidur dulu,, siapa tau abis bangun tidur subuh-subuh nanti punya ide bagus,, mungkin bawaan kurang istirahat juga kali yaa sampe-sampe ide-ide tu nggak muncul di otak..
Akhirnya aku siap-siap buat tidur. Cuci tangan, cuci kaki, cuci muka, gosok gigi,, blablabla ritual sebelum tidur pun gua kerjain, Ceritanya solat Isya udah selesai tadi.. Trus pas gua mau meluk guling, mau baca do'a sebelum tidur tiba-tiba terlintas berbagai macam kalimat dan untaian kata seliweran di otak. Daripada lupa, mending langsung dibikin ajan.. Hihihi,
Jadi puisi aku ini punya satu tema, satu judul tapi punya dua senses, yang satu tentang kerusakannya, yang satu tentang rasa syukurnya..
DAAAANNNNNNN,,, INI DIAAAA..... Maklum aja kalau jelek,, hihi..
- SENSE I
SENJA DI
PANTAI INI
KARYA :
WAHYUNI ZALITA
Senja
telah tiba
Sang
surya hendak kembali ke peraduannya
Namun
tak menggurungkan niatku
Untuk
menikmati kesempurnaan ciptaan Tuhan ini
Aku berpijak
di pasir putih nan lembut
Mendekati
buih-buih ombak yang diciptakan oleh
deburannya
yang berkejaran
Kubiarkan
ombak ini
mengusap
kedua kakiku seperti menari-nari
Ku
dudukkan tubuhku
Di
atas hamparan pasir putih ini
Sembari
membentuk goresan-goresan tak jelas
Yang
akan lenyap bersama sapuan ombak
Nyiur
melambai-lambai
Seolah
mengucapkan selamat tinggal pada sang surya
Ku tutup
mataku menikmati hembusan angin sepoi-sepoi
Yang menambah
indahnya senja di pantai ini
Hatiku pun
berbisik
Terima
kasih Tuhan
Telah
engkau ciptakan alam yang begitu sempurna
SENSE II
SENJA
DI PANTAI INI
Karya : Wahyuni Zalita
Masih
segar di ingatanku
Senja
itu, setahun yang lalu
Kulangkahkan
kakiku
Di
atas pantai berpasir putih
Yang
begitu lembut dan bersih ini
Ombak
berkejaran
Menciptakan
suara alam yang indah
Bersama
dengan kicau burung-burung kecil
yang hendak pulang ke sarangnya
Nyiur
pun ikut melambai-lambai
Seolah
mengucapkan selamat tinggal pada sang surya
Yang
akan kembali ke peraduannya
Betapa
indahnya senja itu
Kini kembali
kulangkahkan kakiku di pantai ini
Pantai
berpasir putih ini kini tak seperti dulu
Banyak benalu
yang berserakan di atasnya
Ombak
yang bergulung-gulung berkejaran
masih
menciptakan irama yang sama
Namun
terdengar memilukan
Seolah
mengatakan kepada insan ini
Bahwa
sudah terlalu banyak benalu yang ikut terombang-ambing
Bersama
dengan air laut ini
Nyiur tetap
melambai dengan gerakan yang sama
Namun
nyiur-nyiur itu sudah mulai lenyap satu persatu
Semburat
merah yang tak biasa pada senja itu
Seolah
menyiratkan kesedihan sang surya
Atas apa yang
telah terjadi pada pantai ini
Siapa yang
sudah merusak ciptaan Tuhan ini?

.jpg)






.jpg)
.jpg)